4.52 dini hari, terpejam dan tenggelam dalam lelap adalah sebuah keinginan mulia dari lelahnya mata menatap dunia. Adalah sebuah harapan sederhana, riuh dunia tentu terlalu memekakkan telinga. Banyaknya cahaya hari ini tentu saja menyilaukan dan lambat laun menghasilkan pendar, melelahkan dan menjadi nanar. Rasa lelah tentu bukanlah sesuatu yang harus selalu dipikul terus menerus.
Kali ini sebuah keluhan harus tertuang dalam tulisan tanpa pembaca. Kali ini, untai demi untai kalimat tentang kerinduan harus diluruhkan ke dalam barisan aksara. Maka aku katakan berlatarkan panggilan doa yang lantang tersiar. Rindu itu berbahaya, wahai kekasih.
Rindu itu bisa saja berarti bencana.
Ketika rindu tidak lagi terdengar dan tersampaikan hingga tujuan.
Rindu itu bencana ketika rinai hujan tak lagi dapat menenangkan.
Dan rindu itu bencana jika tak lagi tertahan dan menimbulkan kecamuk kemarahan dan pertempuran hati dan pikiran.
Aku tidak hanya rindu untuk diperhatikan, terkadang aku hanya rindu untuk memandang dan menatap. Sehingga ada keinginan hati untuk menetap. Terkadang aku hanya rindu tertawa dan didengarkan, ketika penat dunia dapat terlontar dan dapat ditertawakan bersama. Terkadang aku rindu untuk menatap hujan dan berdoa, semoga sejuknya terus ada. Dan terkadang, aku rindu untuk sekedar tertawa.
Hidup memang tidak mudah, kekasih. Terkadang kita tetap harus bisa tertawa, menertawakan kebodohan dan kesalahan diri sendiri hanya untuk dapat terlihat bahagia. Terkadang kita tetap harus bisa tertawa, agar sedih tetap samar dan bahagia tidak terlihat pura-pura. Tentunya itu semua akan menjadi lebih mudah, kekasih. Jika tangan kita dapat terpaut, mata kita saling berpandang, dan tubuh kita saling merengkuh.
Aku tidak terbiasa menuliskan hal seperti ini, kekasih. Namun kerinduan memaksa mataku untuk tetap terbuka, ketika rongga mulutku tak dapat bersuara. Namun percaya dengan harap dan rinduku tak ubah membaca gejala dari jelaga.
Sudahlah, ketika barisan aksara ini menemukan pembacanya. Mungkin kesepian sudah redam. Mungkin saja harapan sudah padam.
Mengapa Harus Lunas?
Selamat malam menjelang dini hari..
Sudah lama gak mampir dan nulis sedikit uneg-uneg atopun cerita-cerita kecil di rumah lama. Yaa, blog ini sebagai rumah lama yang menjadi awal pembelajaran tentang SEO, menulis, publikasi, dan berbicara terbuka. Sudah lama, bahkan sangat lama.
Setelah beberapa tahun, akhirnya saya dapet pengalaman baru. Pekerjaan lama dengan nuansa baru, usaha yang baru, lingkungan yang baru, bahkan koneksi dan band yang baru. Tapi kali ini bukan urusan band, ato musik yang bakal dibahas di sini. Tapi pengalaman baru, benar-benar baru. MENJADI MAHASISWA!
Sudah kurang lebih 8 tahun lulus dari SMA, dan baru tahun kemarin memutuskan buat lanjutin pendidikan. Yaa, saya sekarang adalah seorang mahasiswa semester 3 di salah satu sekolah tinggi informatika. Universitas swasta yang saya yakin bisa bersaing meskipun umurnya masih bisa dibilang cukup muda. Tapi tenang, saya bukan ingin mengupas tentang bagaimana perjalanan kuliah saya, atau bagaimana kehidupan kemahasiswaan saya. Saya hanya ingin menuliskan uneg-uneg tentang sebuah sistem yang menurut saya kurang menguntungkan bagi pelajar maupun mahasiswa.
Barusan saya membaca artikel milik Siti Mugi Rahayu, yang kebetulan menohok dan sesuai dengan apa yang ingin saya ungkapkan. SPP!!! Mengapa universitas ataupun sekolah memiliki ancaman yang sama, bahkan bukan ancaman.
Sudah lama gak mampir dan nulis sedikit uneg-uneg atopun cerita-cerita kecil di rumah lama. Yaa, blog ini sebagai rumah lama yang menjadi awal pembelajaran tentang SEO, menulis, publikasi, dan berbicara terbuka. Sudah lama, bahkan sangat lama.
Setelah beberapa tahun, akhirnya saya dapet pengalaman baru. Pekerjaan lama dengan nuansa baru, usaha yang baru, lingkungan yang baru, bahkan koneksi dan band yang baru. Tapi kali ini bukan urusan band, ato musik yang bakal dibahas di sini. Tapi pengalaman baru, benar-benar baru. MENJADI MAHASISWA!
Sudah kurang lebih 8 tahun lulus dari SMA, dan baru tahun kemarin memutuskan buat lanjutin pendidikan. Yaa, saya sekarang adalah seorang mahasiswa semester 3 di salah satu sekolah tinggi informatika. Universitas swasta yang saya yakin bisa bersaing meskipun umurnya masih bisa dibilang cukup muda. Tapi tenang, saya bukan ingin mengupas tentang bagaimana perjalanan kuliah saya, atau bagaimana kehidupan kemahasiswaan saya. Saya hanya ingin menuliskan uneg-uneg tentang sebuah sistem yang menurut saya kurang menguntungkan bagi pelajar maupun mahasiswa.
Barusan saya membaca artikel milik Siti Mugi Rahayu, yang kebetulan menohok dan sesuai dengan apa yang ingin saya ungkapkan. SPP!!! Mengapa universitas ataupun sekolah memiliki ancaman yang sama, bahkan bukan ancaman.
TIDAK BOLEH IKUT UJIAN JIKA BELUM LUNAS SPP
Dan baru aja saya merasakan hal seperti di atas, benar-benar tidak bisa ikut ujian jika belum lunas SPP. Padahal menurut saya, esensi dari pendidikan bukan hanya sekedar pelunasan SPP ataupun sebatas materi. Oke, saya salah karena belum melunasi SPP yang nominalnya beberapa ratus ribu. Dan saya juga salah karena tidak memprioritaskan urusan SPP dalam list pendapatan dan pengeluaran saya. Tapi, menurut saya SPP bukanlah hambatan jika seorang pelajar/mahasiswa ingin mengikuti ujian. Apalagi ketika waktunya mepet dan benar-benar belum bisa melunasi saat itu juga.
Berawal dari siang hari, Sabtu siang yang terik dan macet. Jarak tempuh ke kampus dari tempat kerja jika normal adalah kurang dari 15 menit. Dan waktu itu saya harus menempuh sekitar 47menit, bahkan lebih. Dikarenakan weekend dan kebetulan ada acara di sebuah hotel simpang tiga yang menjadi penyebab kemacetan panjang. Terik, macet, belom makan, dan belom bayar SPP. FUCK YEAH!! Itu adalah kombinasi yang pas. Pas apesnya.
Jujur, saya tau ancaman kalo belum bayar SPP berarti gak bisa ikut ujian semester. Saya yakin, saya dah tau peringatan itu. Tapi waktu itu memang saya tidak pegang uang, hanya sisa 20ribu buat beli premium karna rokok masih ada. Dan sesampainya di kampus, saya minta kartu ujian dan disuruh menghadap petinggi kampus karna saya belom lunas SPP untuk semester ini. Dan ancaman itu ternyata benar. FUCK MAN!! Beneran gak boleh ikutan ujian, padahal dah setengah mati panas-panas demi pengen sampe kampus tepat waktu. Waktu itu gini percakapannya (kurang lebih sih);
keterangan;
Pop= Saya, PS= Petinggi Kampus
Pop:"Pak, saya kan belum lunas SPP. Boleh gak saya minta perpanjangan tengat waktu untuk pembayaran sampe besok siang. Soalnya saya kan kerja, trus profit sharing dibagi setiap 10 hari. Kan besok dah tanggal 10 Pak."
PS:"Wah, gak bisa, kalau mau ikut ujian kan memang harus lunas dulu SPP nya. Kalo belum lunas yaa brarti gak bisa ikut."
Pop:"Wah Pak, masa gak bisa minta tengat waktu sehari aja, kan besok dah pasti dibayar." Lagian sehari aja kok, apa sih susahnya?!(dalam hati sih ngomong begitu).
PS:"Tetap gak bisa, belom lunas yaa brarti gak bisa ikut ujian. Saran saya, mending minjem dulu sama temen atau siapa. Minimal setengah dari SPP yang belom dibayar lah. Ntar "dipinjemin" kartu ujiannya, habis ujian ditarik lagi kalo dah bubar kelas. Tapi ini dah mepet waktunya, skarang dah jam 1. Kalo 15menit telat gak dibolehin masuk sama pengawas."
Kira-kira gitu lah percakapan waktu itu, dan apa poin yang saya tangkap dari percakapan di atas?!
Sebenarnya percakapan di atas tidak ada gunanya sama sekali. Mengapa saya bisa bilang seperti itu?! Karna, seandainya saya meng-iya-kan dan jalan buat pinjem. Toh saya bakal kejebak macet dan ujung-ujungnya tetep gak bisa ikut ujian. Minimal saya tetep ketingalan ujian untuk 1 mata kuliah. Lantas kalo gtu buat apa pinjem?! Itu adalah tanda tanya besar buat saya.
Sebenarnya kalopun mau pinjem, saya bisa. Tinggal balik ke kantor trus ngomong pinjem duit buat bayar SPP, trus beres. Bahkan langsung lunas. Tapi apa yang bakal saya dapetin? Yang ada jarak tempuh bakal kyak sebelumnya karna kena macet, macet, macet, dan macet. Jujur, saya juga bekerja dengan dosen di kampus tempat saya kuliah. Cuma gak pengen ngadu aja sama si BOS, males ribet.
Dan disini saya mengandaikan, seandainya yang mengalami adalah mahasiswa rantau yang gak punya keluarga disini. Trus dia gimana?! Apa kampus mau ngasih keringanan?! Atau, gimana kalo keadaan serupa dialamin sama mahasiswa dengan IP 3,7 yang kebetulan belom gajian?! Apa kampus bakal ngorbankan mahasiswa berprestasi demi uang SPP yang sebenernya gak terlalu banyak nominalnya?!
Ketika saya salah soal SPP, yaa memang saya yang salah. Tapi apakah sebaiknya urusan ujian dan SPP tidak disatukan. Dalam artian, ketika seorang siswa/mahasiswa datang tepat waktu untuk ikut ujian tapi belom lunas SPP, yaudah. Ikut ujian aja, tapi ntar nilai/rapor nya ditahan sampe lunas SPP. Bukannya malah gak dibolehin ikut ujian. Itu sama sekali tidak membantu, tidak menguntungkan pihak siswa/mahasiswa. Yang ada malah nambah stress, udah stress karna mau ujian, tambah stress lagi mikir duit SPP yang belom lunas. Sistem kyak gini gak bikin siswa/mahasiswa jadi gak respect sama sekolah/kampus.
Jujur aja, saya sih dongkol sama si bapak. Kalo udah ada sesuatu program kampus aja, jor-joran minta dukungan mahasiswa, dah mahasiswa minta tolong kasih tengat waktu sehari malah ogah-ogahan.
Oiya, satu lagi.
Masih urusan duit kuliah, lebih tepatnya soal beasiswa ato BEHAsiswa ato apalagi istilahnya. Sebenernya saya gak pinter, bahkan saya lebih suka disebut pembuat onar, jorok, suka menghina, dsb. Walopun sebenernya IP saya selama 2 semester pertama diatas 3,0. Bahkan sampai 3,3. Terus apa hubungannya anjeng!!!
Hubungannya adalah, seandainya saya ngajuin BEHAsiswa. Mungkin saya gak bakal nunggak SPP, minimal urusan SPP bukan lagi jadi momok. Trus, kenapa saya tidak mengajukan BEHAsiswa?!
Karna isi file kelengkapan dan kuisioner yang berbelit-belit. Oke, kalo kelengkapan mencakup fotokopi KK dsb, tapi detail ukuran rumah, properti keluarga dll bukan sebuah prioritas untuk mendapatkan sebuah BEHAsiswa. Masa untuk kuisioner BEHAsiswa aja sampe nanya berapa ukuran rumah, punya tv apa, flatscreen atau tabung, motor berapa, kulkas berapa, mesin cuci berapa. Itu bukan suatu yang logis ditanyakan dalam kuisioner.
Seandainya saya nulis ukuran rumah 5x20meter, punya motor 4, tv flatscreen 39inch, mesin cuci ada 2, punya kulkas 2, kompor gas, handphone harga 3jt. Apa saya masih layak dapat BEHAsiswa berprestasi? Tapi kan balik lagi, itu propreti orang tua, saya cuma handphone, motor, sama biji peler. Selebihnya saya dah hampir 4 taun gak tinggal sama orang tua. Lantas data di atas masih diperhitungkan punya saya pribadi?! Konyol jika itu masih dijadikan parameter kepantasan mendapatkan BEHAsiswa berprestasi. Karna itu saya buang jauh-jauh itu kuisioner dan bayar kuliah secara normal.
Dan ternyata saya nunggak dan gak boleh ikut ujian, walopun besoknya saya langsung lunasin itu SPP. Tapi yaa tetep aja, harus susulan ujian semester. Dah gtu matkul yang gak terlalu ngerti pula, kan kampret.
Tapi, inti dari tulisan ini sebenernya hanya kemudahan.
Mudah mendapatkan BEHAsiswa ketika memang dirasa pantas, dan mudah mengikuti ujian meskipun SPP belom lunas. UDAH ITU AJA!!!
MERDEKAAA!!!!
Mengapa Hujan...
Sudah bulan Januari, hujan terus turun di awal tahun yang cukup sendu buat dilewati sendirian. Lantas, mengapa harus tentang hujan? Dan tidak adakah sesuatu yang lebih berguna daripada membicarakan hujan yang (untuk sebagian orang) hanya penyebab sakit, rindu, banjir, flashback, bahkan gerbang kegalauan yang (mungkin saja) akhir dari perjuangan move on dari mantan kekasih yang sebelumnya.
Tapi begitulah hujan, presipitasi titik-titik air di angkasa yang akhirnya jatuh membasahi pijakan manusia, bumi. Dan itu rata-rata berjumlah 16.000 ton air sekali tumpah. Lantas mengapa harus hujan? Mengapa hujan? Dan apakah salah hujan?
Hujan tidak pernah salah, hujan hanya salah satu proses alami dari kehidupan. Sama dengan kehidupan kita yang (secara tidak kita sadari) bersirkulasi, berotasi. Hujan ibarat jalan kehidupan kita yang pasang surut. Kadang terasa emosi, kadang tenang. Kadang sedih, kadang bahagia. Kadang bertemu, kadang berpisah, dan kadang acuh, kadang rindu. Kita ibaratkan saja hujan bagai bagian terdalam dari perasaan kita yang mudah tersentuh.
Aku adalah pria yang menyukai tiap tetes hujan diatas tanah kering hingga mengepulkan aroma. Aku adalah pria yang dengan santai lewat di bawah rinai hujan tanpa takut kebasahan. Dan jika itu terjadi, maka anggap saja proses peneduhan emosi sedang terjadi. Setidaknya agar tidak merasa emosi pada air yang tidak sengaja beriak.
Ini adalah sebuah catatan iseng di sela ketidak-adaan-kerja selain bermain game, UAS yang sudah beres dan ketidakbisaan membaca buku kala gelap. Oiya, Om Hujan sekarang berstatus mahasiswa baru di sebuah Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika. Sebuah perjalanan yang seharusnya sudah diarungi 8 tahun lalu. Dan.. Ah seandainya mata manusia bisa dengan otomatis bertransformasi, berubah menjadi mata makhluk nocturnal kala gelap menyerang. Sehingga manusia tidak akan terjebak dalam kesendirian di kegelapan, bisa tetap membaca dan menyelami fantasi dari setiap rima cerita fiksi yang terbaca. Meskipun pada faktanya, ada manusia yang memiliki mata seperti itu. Dan entah mengapa pembahasan menjadi mengarah ke mata. FAAK!
Tidak dipungkiri, mata dan hujan adalah dua hal yang seharusnya tidak memiliki relasi. Meskipun begitu, relasi selalu ada terkait mata dan hujan. Ketika bias air di udara menciptakan pelangi, maka mata pun memilikinya. Selalu ada bias pelangi di dalam permukaan iris yang basah, entah karena menangis, terlalu terbahak dalam tawa, atau mungkin ketika sendu dalam haru.
Hujan. Adalah ketika manusia merasa sejuk dalam ketidakpastian hidup, dan harap. Bahkan ketika seorang musisi menuliskan lagu, tak jarang hujan selalu dikaitkan dalam sebuah harapan akan datangnya kebahagiaan dalam bentuk lingkar warna pelangi. Dan memang seperti itulah seharusnya. Dimana hujan selalu menjadi peneduh dunia yang terlalu pengap dengan hiruk-pikuk manusia.
Kali ini hujan turun lebih cepat 4 jam dari biasanya, tengah malam. Dengan kondisi setengah badai diantara hujaman air berkecepatan 30km/jam. Dan dengan sukses mengisi kekosongan dengan menghadirkan tulisan ini. Meskipun biasanya hujan memberian inspirasi untuk berpuisi dalam linimasa yang memiliki keterbatasan ruang. Aku lelah harus mempersingkat apa pun tentang hujan yang seharusnya bisa dibahas dengan panjang lebar. Mungkin saja seisi rumah akan kekurangan volume jika harus dipenuhi dengan catatan tentang hujan dan berbagai prosa yang dapat diakibatkannya.
Hujan adalah ketika tanaman rambat dapat menjalar dengan riang dibawah kelembaban suhu. Hujan adalah ketika katak dapat dengan tenang bersenandung diatas kelopak daun di pinggir kubangan air. Dan hujan adalah ketika imaji dapat berkelana ke alam yang lain, masa depan, masa lalu, bahkan berkelana dalam harap yang mungkin saja masih semu. Tapi itulah hujan, dengan segala kemagisan yang bisa ia hadirkan.
Mungkin terlalu mellow dan naif ketika seorang pria membicarakan hujan dalam bahasa yang terkesan memaksakan kepuitisan yang bisa saja palsu dan lebai. Tapi itulah hujan, bahkan pria bertattoo dan ber-plug-pun dapat menghadirkannya dalam prosa imaji yang dapat digali. Mungkin dengan, ataupun tanpa sebuah intuisi.
Hujan dalam diri manusia. Adalah dimana tangis dapat meredakan amarah. Dimana tangis dapat mencairkan kebekuan hati. Dimana kerinduan berteriak dengan lantang ingin cepat tersampaikan. Om Hujan, seperti itulah aku pernah dipanggil karena selalu berusaha menggali imaji dalam tiap derainya. Berpuisi seolah tidak ada orang lain yang akan memperhatikan. Dan selalu berteriak lantang dibawah hujan sambil mengendarai motor keliling kota. Hujan adalah dimana manusia bebas berteriak dalam sepinya jalan karena manusia lain sibuk berteduh dan membawa payung. Hujan adalah dimana emosi bisa tertumpah dalam rinai yang mungkin saja tanpa ujung.
Dan dibawah langit pekat, Om Hujan selalu mengenang sepasang mata di ujung jalan.
FAAAK!! Mengapa harus membahas sepasang mata, sepasang mimpi dan apa pun itu.
Dan di bawah rinai hujan, seharusnya manusia dapat mengecap hening yang dalam. Mencari intisari dari sebuah kegagalan yang bisa dilarutkan dalam aliran hujan menuju muara. Dan itu hanya seharusnya.
Tapi begitulah hujan, presipitasi titik-titik air di angkasa yang akhirnya jatuh membasahi pijakan manusia, bumi. Dan itu rata-rata berjumlah 16.000 ton air sekali tumpah. Lantas mengapa harus hujan? Mengapa hujan? Dan apakah salah hujan?
Hujan tidak pernah salah, hujan hanya salah satu proses alami dari kehidupan. Sama dengan kehidupan kita yang (secara tidak kita sadari) bersirkulasi, berotasi. Hujan ibarat jalan kehidupan kita yang pasang surut. Kadang terasa emosi, kadang tenang. Kadang sedih, kadang bahagia. Kadang bertemu, kadang berpisah, dan kadang acuh, kadang rindu. Kita ibaratkan saja hujan bagai bagian terdalam dari perasaan kita yang mudah tersentuh.
Aku adalah pria yang menyukai tiap tetes hujan diatas tanah kering hingga mengepulkan aroma. Aku adalah pria yang dengan santai lewat di bawah rinai hujan tanpa takut kebasahan. Dan jika itu terjadi, maka anggap saja proses peneduhan emosi sedang terjadi. Setidaknya agar tidak merasa emosi pada air yang tidak sengaja beriak.
Ini adalah sebuah catatan iseng di sela ketidak-adaan-kerja selain bermain game, UAS yang sudah beres dan ketidakbisaan membaca buku kala gelap. Oiya, Om Hujan sekarang berstatus mahasiswa baru di sebuah Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika. Sebuah perjalanan yang seharusnya sudah diarungi 8 tahun lalu. Dan.. Ah seandainya mata manusia bisa dengan otomatis bertransformasi, berubah menjadi mata makhluk nocturnal kala gelap menyerang. Sehingga manusia tidak akan terjebak dalam kesendirian di kegelapan, bisa tetap membaca dan menyelami fantasi dari setiap rima cerita fiksi yang terbaca. Meskipun pada faktanya, ada manusia yang memiliki mata seperti itu. Dan entah mengapa pembahasan menjadi mengarah ke mata. FAAK!
Tidak dipungkiri, mata dan hujan adalah dua hal yang seharusnya tidak memiliki relasi. Meskipun begitu, relasi selalu ada terkait mata dan hujan. Ketika bias air di udara menciptakan pelangi, maka mata pun memilikinya. Selalu ada bias pelangi di dalam permukaan iris yang basah, entah karena menangis, terlalu terbahak dalam tawa, atau mungkin ketika sendu dalam haru.
Hujan. Adalah ketika manusia merasa sejuk dalam ketidakpastian hidup, dan harap. Bahkan ketika seorang musisi menuliskan lagu, tak jarang hujan selalu dikaitkan dalam sebuah harapan akan datangnya kebahagiaan dalam bentuk lingkar warna pelangi. Dan memang seperti itulah seharusnya. Dimana hujan selalu menjadi peneduh dunia yang terlalu pengap dengan hiruk-pikuk manusia.
Kali ini hujan turun lebih cepat 4 jam dari biasanya, tengah malam. Dengan kondisi setengah badai diantara hujaman air berkecepatan 30km/jam. Dan dengan sukses mengisi kekosongan dengan menghadirkan tulisan ini. Meskipun biasanya hujan memberian inspirasi untuk berpuisi dalam linimasa yang memiliki keterbatasan ruang. Aku lelah harus mempersingkat apa pun tentang hujan yang seharusnya bisa dibahas dengan panjang lebar. Mungkin saja seisi rumah akan kekurangan volume jika harus dipenuhi dengan catatan tentang hujan dan berbagai prosa yang dapat diakibatkannya.
Hujan adalah ketika tanaman rambat dapat menjalar dengan riang dibawah kelembaban suhu. Hujan adalah ketika katak dapat dengan tenang bersenandung diatas kelopak daun di pinggir kubangan air. Dan hujan adalah ketika imaji dapat berkelana ke alam yang lain, masa depan, masa lalu, bahkan berkelana dalam harap yang mungkin saja masih semu. Tapi itulah hujan, dengan segala kemagisan yang bisa ia hadirkan.
Mungkin terlalu mellow dan naif ketika seorang pria membicarakan hujan dalam bahasa yang terkesan memaksakan kepuitisan yang bisa saja palsu dan lebai. Tapi itulah hujan, bahkan pria bertattoo dan ber-plug-pun dapat menghadirkannya dalam prosa imaji yang dapat digali. Mungkin dengan, ataupun tanpa sebuah intuisi.
Hujan dalam diri manusia. Adalah dimana tangis dapat meredakan amarah. Dimana tangis dapat mencairkan kebekuan hati. Dimana kerinduan berteriak dengan lantang ingin cepat tersampaikan. Om Hujan, seperti itulah aku pernah dipanggil karena selalu berusaha menggali imaji dalam tiap derainya. Berpuisi seolah tidak ada orang lain yang akan memperhatikan. Dan selalu berteriak lantang dibawah hujan sambil mengendarai motor keliling kota. Hujan adalah dimana manusia bebas berteriak dalam sepinya jalan karena manusia lain sibuk berteduh dan membawa payung. Hujan adalah dimana emosi bisa tertumpah dalam rinai yang mungkin saja tanpa ujung.
Dan dibawah langit pekat, Om Hujan selalu mengenang sepasang mata di ujung jalan.
FAAAK!! Mengapa harus membahas sepasang mata, sepasang mimpi dan apa pun itu.
Dan di bawah rinai hujan, seharusnya manusia dapat mengecap hening yang dalam. Mencari intisari dari sebuah kegagalan yang bisa dilarutkan dalam aliran hujan menuju muara. Dan itu hanya seharusnya.
Derita Penjaga Warnet
Sebenernya malu sih nulis ginian..
Tapi apa mau dikata..
Ternyata jadi seorang komputer dan internet freak itu punya dampak kurang bagus juga. Selain memiliki kecenderungan anti-sosial, internet freak juga bikin autis alias terlalu asik sama dunia sendiri tanpa peduliin orang laen di sekitar. Bahkan hampir ga pernah ngomong secara langsung sama orang2 baru termasuk dalam urusan "cwe".
Terlalu banyak bergaul sama komputer (hampir 4 taon di depan komputer), tanpa sosialisasi sama dunia nyata bikin ane jadi kagok dalam urusan sosial di dunia nyata, tentunya dalam urusan cwe, pacaran dan cinta2an.
Mungkin karna masih tebayang masalalu, janji, sumpah, sampe cita2 yang gagal dan ga kesampaian, bikin ane terus menerus anti sosial dan makin dalam berkutat sama dunia sendiri yang berbentuk layar flat 14 inch.
Sampe2 untuk urusan PDKT aja udah ga tau caranya, ga brani sms cwe, apalagi ngegombal. -__-"
Dan untuk saat ini, ane ada naksir sama cwe. Emang sih masih muda, beda umur nya lumayan jauh sama ane, sekitar 5-6 taon (sekarang umur ane 22 jalan 23 ). Dan bodohnya si tua bangka ini tetep bingung masalah gombalin anak umur belasan taon. Sampe2 bela2in buka google trus nulis keyword "cara pdkt yang baik dan benar" -_-, tolol kan jadinya, padahal si target udah (lumayan) sering smsan. -itupun kalo ga disms duluan, ane ga bakalan sms.
Dari keyword yang ane masukin ke search engine google, rata2 pada bilang "be ur self, langsung aja", sementara ane adalah orang yang (jadi )penakut kalo dalam urusan ginian *jedotinkepala. Sangking takutnya, sampe bela2in bayar temen buat bilang ke tu cwe kalo ane suka, parah aahh..
Tapi itu memang adanya, padahal sebenernya kalo dipikir kan gampang, tinggal ajak jalan doang, speak2 easy, trus kalo dapet respon langsung GAS..!! tapi nyatanya ane ga brani.. ane terlalu takut sama hal yg berhubungan sama yang namanya cwe, apalagi kalo baru ketemu (walopun di pesbuk/twitter suka komen2an). Udah deh, langsung diem ga brani ngomong..
Tapi kali ini ane pengen nyoba brani, yaa moga2 aja si target juga punya feeling (walopun dikit) *ngareeeppp.
Dan sekarang pun ane lagi smsan sama si target, mau ajak jalan aja susah jadinya.. (susah bilangnya kamsudnya.. :D )
Tapi semoga kali ini ane brani deh, mumpung si target lagi gemes2nya sama ane.. :D
Udah ahh..
Malu tauu...
Blog Archive
Followers
About Me
Label
- Apa yaaa.. (1)

