Sudah bulan Januari, hujan terus turun di awal tahun yang cukup sendu buat dilewati sendirian. Lantas, mengapa harus tentang hujan? Dan tidak adakah sesuatu yang lebih berguna daripada membicarakan hujan yang (untuk sebagian orang) hanya penyebab sakit, rindu, banjir, flashback, bahkan gerbang kegalauan yang (mungkin saja) akhir dari perjuangan move on dari mantan kekasih yang sebelumnya.
Tapi begitulah hujan, presipitasi titik-titik air di angkasa yang akhirnya jatuh membasahi pijakan manusia, bumi. Dan itu rata-rata berjumlah 16.000 ton air sekali tumpah. Lantas mengapa harus hujan? Mengapa hujan? Dan apakah salah hujan?
Hujan tidak pernah salah, hujan hanya salah satu proses alami dari kehidupan. Sama dengan kehidupan kita yang (secara tidak kita sadari) bersirkulasi, berotasi. Hujan ibarat jalan kehidupan kita yang pasang surut. Kadang terasa emosi, kadang tenang. Kadang sedih, kadang bahagia. Kadang bertemu, kadang berpisah, dan kadang acuh, kadang rindu. Kita ibaratkan saja hujan bagai bagian terdalam dari perasaan kita yang mudah tersentuh.
Aku adalah pria yang menyukai tiap tetes hujan diatas tanah kering hingga mengepulkan aroma. Aku adalah pria yang dengan santai lewat di bawah rinai hujan tanpa takut kebasahan. Dan jika itu terjadi, maka anggap saja proses peneduhan emosi sedang terjadi. Setidaknya agar tidak merasa emosi pada air yang tidak sengaja beriak.
Ini adalah sebuah catatan iseng di sela ketidak-adaan-kerja selain bermain game, UAS yang sudah beres dan ketidakbisaan membaca buku kala gelap. Oiya, Om Hujan sekarang berstatus mahasiswa baru di sebuah Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika. Sebuah perjalanan yang seharusnya sudah diarungi 8 tahun lalu. Dan.. Ah seandainya mata manusia bisa dengan otomatis bertransformasi, berubah menjadi mata makhluk nocturnal kala gelap menyerang. Sehingga manusia tidak akan terjebak dalam kesendirian di kegelapan, bisa tetap membaca dan menyelami fantasi dari setiap rima cerita fiksi yang terbaca. Meskipun pada faktanya, ada manusia yang memiliki mata seperti itu. Dan entah mengapa pembahasan menjadi mengarah ke mata. FAAK!
Tidak dipungkiri, mata dan hujan adalah dua hal yang seharusnya tidak memiliki relasi. Meskipun begitu, relasi selalu ada terkait mata dan hujan. Ketika bias air di udara menciptakan pelangi, maka mata pun memilikinya. Selalu ada bias pelangi di dalam permukaan iris yang basah, entah karena menangis, terlalu terbahak dalam tawa, atau mungkin ketika sendu dalam haru.
Hujan. Adalah ketika manusia merasa sejuk dalam ketidakpastian hidup, dan harap. Bahkan ketika seorang musisi menuliskan lagu, tak jarang hujan selalu dikaitkan dalam sebuah harapan akan datangnya kebahagiaan dalam bentuk lingkar warna pelangi. Dan memang seperti itulah seharusnya. Dimana hujan selalu menjadi peneduh dunia yang terlalu pengap dengan hiruk-pikuk manusia.
Kali ini hujan turun lebih cepat 4 jam dari biasanya, tengah malam. Dengan kondisi setengah badai diantara hujaman air berkecepatan 30km/jam. Dan dengan sukses mengisi kekosongan dengan menghadirkan tulisan ini. Meskipun biasanya hujan memberian inspirasi untuk berpuisi dalam linimasa yang memiliki keterbatasan ruang. Aku lelah harus mempersingkat apa pun tentang hujan yang seharusnya bisa dibahas dengan panjang lebar. Mungkin saja seisi rumah akan kekurangan volume jika harus dipenuhi dengan catatan tentang hujan dan berbagai prosa yang dapat diakibatkannya.
Hujan adalah ketika tanaman rambat dapat menjalar dengan riang dibawah kelembaban suhu. Hujan adalah ketika katak dapat dengan tenang bersenandung diatas kelopak daun di pinggir kubangan air. Dan hujan adalah ketika imaji dapat berkelana ke alam yang lain, masa depan, masa lalu, bahkan berkelana dalam harap yang mungkin saja masih semu. Tapi itulah hujan, dengan segala kemagisan yang bisa ia hadirkan.
Mungkin terlalu mellow dan naif ketika seorang pria membicarakan hujan dalam bahasa yang terkesan memaksakan kepuitisan yang bisa saja palsu dan lebai. Tapi itulah hujan, bahkan pria bertattoo dan ber-plug-pun dapat menghadirkannya dalam prosa imaji yang dapat digali. Mungkin dengan, ataupun tanpa sebuah intuisi.
Hujan dalam diri manusia. Adalah dimana tangis dapat meredakan amarah. Dimana tangis dapat mencairkan kebekuan hati. Dimana kerinduan berteriak dengan lantang ingin cepat tersampaikan. Om Hujan, seperti itulah aku pernah dipanggil karena selalu berusaha menggali imaji dalam tiap derainya. Berpuisi seolah tidak ada orang lain yang akan memperhatikan. Dan selalu berteriak lantang dibawah hujan sambil mengendarai motor keliling kota. Hujan adalah dimana manusia bebas berteriak dalam sepinya jalan karena manusia lain sibuk berteduh dan membawa payung. Hujan adalah dimana emosi bisa tertumpah dalam rinai yang mungkin saja tanpa ujung.
Dan dibawah langit pekat, Om Hujan selalu mengenang sepasang mata di ujung jalan.
FAAAK!! Mengapa harus membahas sepasang mata, sepasang mimpi dan apa pun itu.
Dan di bawah rinai hujan, seharusnya manusia dapat mengecap hening yang dalam. Mencari intisari dari sebuah kegagalan yang bisa dilarutkan dalam aliran hujan menuju muara. Dan itu hanya seharusnya.
Blog Archive
Followers
About Me
Label
- Apa yaaa.. (1)


Terdapat 0 comments:
Posting Komentar
Jangan lupa komennya gan..